GALUNGAN
Macam-macam Galungan
Meskipun
Galungan itu disebut “Rerahinan Gumi” artinya semua umat wajib melaksanakan,
ada pula perbedaan dalam hal perayaannya. Berdasarkan sumber-sumber kepustakaan
lontar dan tradisi yang telah berjalan dari abad ke abad telah dikenal adanya
tiga jenis Galungan yaitu: Galungan (tanpa ada embel-embel), Galungan Nadi dan
Galungan Nara Mangsa. Penjelasannya adalah sebagai berikut:
Galungan
Galungan
Adalah hari raya
yang wajib dilakukan oleh umat Hindu untuk merayakan kemenangan dharma melawan
adharma. Berdasarkan keterangan lontar Sundarigama disebutkan “Buda Kliwon
Dungulan ngaran Galungan.” Artinya, Galungan itu dirayakan setiap Rabu Kliwon
wuku Dungulan. Jadi Galungan itu dirayakan, setiap 210 hari karena yang dipakai
dasar menghitung Galungan adalah Panca Wara, Sapta Wara dan Wuku. Kalau Panca
Waranya Kliwon, Sapta Waranya Rabu, dan wukunya Dungulan, saat bertemunya
ketiga hal itu disebut Hari Raya Galungan.
Galungan Nadi
Galungan yang
pertama dirayakan oleh umat Hindu di Bali berdasarkan lontar Purana Bali Dwipa
adalah Galungan Nadi yaitu Galungan yang jatuh pada sasih Kapat (Kartika)
tanggal 15 (purnama) tahun 804 Saka (882 Masehi) atau pada bulan Oktober.
Disebutkan dalam
lontar itu, bahwa pulau Bali saat dirayakan Galungan pertama itu bagaikan Indra
Loka. Ini menandakan betapa meriahnya perayaan Galungan pada waktu itu.
Perbedaannya dengan Galungan biasa adalah dari segi besarnya upacara dan
kemeriahannya. Memang merupakan suatu tradisi di kalangan umat Hindu bahwa
kalau upacara agama yang digelar bertepatan dengan bulan purnama maka mereka
akan melakukan upacara lebih semarak. Misalnya upacara ngotonin atau upacara
hari kelahiran berdasarkan wuku, kalau bertepatan dengan purnama mereka
melakukan dengan upacara yang lebih utama dan lebih meriah. Disamping karena
ada keyakinan bahwa hari Purnama itu adalah hari yang diberkahi oleh Sanghyang
Ketu yaitu Dewa kecemerlangan. Ketu artinya terang (lawan katanya adalah Rau
yang artinya gelap). Karena itu Galungan, yang bertepatan dengan bulan purnama
disebut Galungan Nadi. Galungan Nadi ini datangnya amat jarang yaitu kurang
lebih setiap 10 tahun sekali.
Galungan Nara Mangsa
Galungan Nara
Mangsa jatuh bertepatan dengan tilem sasih Kapitu atau sasih Kesanga. Dalam
lontar Sundarigama disebutkan sebagai berikut:
“Yan Galungan nuju sasih Kapitu, Tilem Galungan, mwang
sasih kesanga, rah 9, tenggek 9, Galungan Nara Mangsa ngaran.”
Artinya:
Bila Wuku
Dungulan bertepatan dengan sasih Kapitu, Tilem Galungannya dan bila bertepatan
dengan sasih Kesanga rah 9, tenggek 9, Galungan Nara Mangsa namanya.
Dalam lontar
Sanghyang Aji Swamandala ada menyebutkan hal yang hampir sama sebagai berikut:
Nihan Bhatara ring Dalem pamalan dina ring wong Bali,
poma haywa lali elingakna. Yan tekaning sasih Kapitu, anemu wuku Dungulan mwang
tilem ring Galungan ika, tan wenang ngegalung wong Baline, Kala Rau ngaranya
yan mengkana. Tan kawasa mabanten tumpeng. Mwah yan anemu sasih Kesanga, rah 9
tenggek 9, tunggal kalawan sasih Kapitu, sigug ya mengaba gering ngaran. Wenang
mecaru wong Baline pabanten caru ika, nasi cacahan maoran keladi, yan tan
anuhut ring Bhatara ring Dalem yanya manurung, moga ta sira kapereg denira Balagadabah.
Artinya:
Inilah petunjuk
Bhatara di Pura Dalem (tentang) kotornya hari (hari buruk) bagi manusia, semoga
tidak lupa, ingatlah. Bila tiba sasih Kapitu bertepatan dengan wuku Dungulan
dan Tilem, pada hari Galungan itu, tidak boleh merayakan Galungan, Kala Rau
namanya, bila demikian tidak dibenarkan menghaturkan sesajen yang berisi
tumpeng. Dan bila bertepatan dengan sasih Kasanga rah 9, tenggek 9 sama artinya
dengan sasih kapitu. Tidak baik itu, membawa penyakit adanya. Seyogyanya orang
mengadakan upacara caru yaitu sesajen caru, itu nasi cacahan dicampur ubi
keladi. Bila tidak mengikuti petunjuk Bhatara di Pura Dalam (maksudnya bila
melanggar) kalian akan diserbu oleh Balagadabah.
Demikianlah dua
sumber pustaka lontar yang berbahasa Jawa Kuna menjelaskan tentang Galungan
Nara Mangsa. Dalam lontar Sundarigama disebutkan bahwa pada hari Galungan Nara
Mangsa disebutkan “Dewa Mauneb bhuta turun” yang artinya, Dewa tertutup (tapi)
Bhutakala yang hadir. Ini berarti Galungan Nara Mangsa itu adalah Galungan
raksasa, pemakan daging manusia. Oleh karena itu pada hari Galungan Nara Mangsa
tidak dilang-sungkan upacara Galungan sebagaimana mestinya terutama tidak
menghaturkan sesajen “tumpeng Galungan”. Pada Galungan Nara Mangsa justru umat
dianjurkan menghaturkan caru, berupa nasi cacahan bercampur keladi.
Demikian
pengertian Galungan Nara Mangsa. Palaksanaan upacara Galungan di Bali biasanya
diilustrasikan dengan cerita Mayadanawa yang diuraikan panjang lebar dalam
lontar Usana Bali sebagai lambang, pertarungan antara aharma melawan adharma.
Dharma dilambangkan sebagai Dewa Indra sedangkan adharma dilambangkan oleh
Mayadanawa. Mayadanawa diceritakan sebagai raja yang tidak percaya pada adanya
Tuhan dan tidak percaya pada keutamaan upacara agama.
Sumber: Buku “Yadnya dan Bhakti” oleh Ketut Wiana, terbitan Pustaka
Manikgeni

0 Komentar:
Posting Komentar
Berlangganan Posting Komentar [Atom]
<< Beranda