CERPEN : PENGIN KETAWA....
Bieng Ketawa
Jalan
setapak itu berbatu tajam menghadang dan menghujam, becek berlumpur menggenangi
kubangan di permuakaan jalan menuju sekolah di desa sebelah. Pagi masih muda,
mentari masih malu menampakan rupanya, dingin masih menusuk ke sumsum tulang,
dedaunpun masih basah diselimuti butir-butir embun yang menyegarkan, dan juga
nyanyian kokok ayam ketawa menyambut hari dengan gembiranya. Di atas
ranting-ranting pepohon bersuil riang burung kutilang, bersahut padu dengan
burung gereja, pipit, bondol, dan juga lepecit memadu kidung-kidung alam.
Ia
bergegas bangun dari lelap semalam, menunda mimpi di alam tidurnya, sebab ada
mimpi nyata yang harus segera di lanjutkan, sejatipun rasa kantuk masih
membungkam matanya. Tak lupa ia merapikan tempat tidur, seperti yang dipesankan
oleh gurunya di sekolah, sejenak ia bersyukur akan pagi, akan karunia Tuhan
yang tak bertara. Selepas semuanya beres di kerjakan termasuk kegiatan rutin
paginya memberi makan sapi-sapi yang menunggunya di kandang, ia bergegas
membersihkan diri dengan hati gembira dan riang bagai bermain layang-layang
lantunan lagu kesukaannya. Tanpa air hangat, dia basuh tubuh kecil dan kurus
itu, menggigil cadik kedinginan, menusuk ke sumsum tulang, air di desanya cukup
dingin untuk ukuran seorang bocah sekurus dia.
Dengan
setelan celana merah, kemeja putih, topi merah, tak lupa dasinya juga merah, ia
nampak sedikit gagah dengan seragam SD-nya, meskipun seragam yang sudah nampak
sangat lusuh sebab lama tak pernah diganti. Namun kelusuhan itu semua tertutupi
oleh semangatnya sebagai seorang bocah yang memiliki impian-impian tentang masa
di depan sana. Impian-impian kecil yang selalu ia pelihara dengan semangat
bermain layang-layang, yang di sebutnya sebagai mimpi kecil, “Mimpi Si Bocah Gembala”, gumamnya selalu
kepada teman gembalanya dengan bangga.
Julukan
bocah gembala ia terima dari seorang teman wanita sekelasnya, juga sekaligus
teman bermain, mencari reruput makanan ternak, dan juga kayu bakar selepas
pulang sekolah saat ketika ia menemani sang nenek di bukit gunung dekat kampung, “Aku adalah bocah gembala, selalu senang
riang gembira, blab bla bla bla…, dan seterusnya dan seterusnya…” kurang
lebih demikian nyanyian ejekan yang ia terima setiap mereka berjumpa dan itu
membekas di ingatannya.
“Dek makan lu, maro berangkat masuk”,
panggil si ibu dengan nada lembut dan penuh kasih sayang, memanggil dan
memintanya untuk sarapan terlebih dahulu sebelum bergegas berangkat ke sekolah.
“Nah mek”, sahutnya mengiyakan
panggilan si ibu. Dengan sarapan seadanya ia isi perut mungilnya sebelum ke
Sekolah hanya dengan sebilah mie instan dan sedikit nasi tanpa telur, terkadang
hanya nasi berisikan uyah lengis (garam
bercampur banwang merah juga minyak kelapa), terkadang juga nasi berlauk uyah tabyo (cebe berbalut garam), dan
kadang juga hanya uyah embo (bawang
goreng bercampu garam) menjadi lauk nasinya, sangat sederhana, namun dengan
lahap ia menghabiskan makan setiap paginya, “nikmati
saja yang penting makan” gumamnya dalam hati.
Nasib
tak seberuntung kebanyakan anak seumurannya, yang memiliki kehidupan lebih dari
cukup. Ia terlahir di keluarga yang pra sejahtra atau dapat dikatakan miskin.
Beruntungnya si ibu dan ayahnya memiliki semangat yang luar biasa, mereka gigih
bekerja untuk sekedar meyambung hidup dan menyekolahkan anak-anaknya. Terkadang
selepas sekolah ia juga harus membantu orang tuanya dengan berkeliling kampung
menjajakan hasil tani berupa kacang panjang dari rumah kerumah, untuk bekal
sekolahnya esok hari.
Tak
banyak yang ia dapat dari menjajakan kacang panjang, hanya Rp. 300,- sebagai
bekal sekolah, dimana teman sekolahnya sudah berbekal Rp. 1000,-, namun itu
tidak mematahkan semangatnya untuk menuntut ilmu pengetahuan setiap hari
sepanjang minggu. Tiga ratus rupiah, terkadang ia harus melalui dua hari untuk
tidak jajan agar dapat menikmati sepiring nasi kuning dan sebuah es kue yang
menggiurkan lidahnya. Tiga ratus rupiah, pada hari ketiga terkumpul sembilan
ratus rupiah, nasi kuning harganya seribu, es kue seratus rupiah, kurang dua
ratus rupiah, dan untuk menggenapkannya ia harus meminjam dari teman
terdekatnya yang memiliki uang jajan lebih, hitung-hitungannya demikian, cukup
indah angka-angka yang ia rangkai sebagai seorang bocah yang dungu matematika.
Dengan demikian, di hari berikut ia harus puasa jajan untuk melunasi hutang
yang ia miliki dan menunggu beberapa hari agar uangnya terkumpul untuk sekedar
menikmati nasi kuning dan es kue, miris dan menyedihkan, tetapi ia tetap
bersyukur, tetap semangat gembira dan riang menjalani dan memelihara mimpi kecilnya.
“Mek, nak berangkat”, tak lupa berpamit
selepas sarapan ia bergegas menuju sekolah. “Nah,
hati-hati nyen”, balas si ibu menyilahkan dan tak lupa berpesan untuk
selalu berhati-hati. Jalan setapak berbatu tajam menghadang dan menghujam,
becek berlumpur menggenangi kubangan di permuakaan jalan menuju sekolah di desa
sebelah yang lumayan jauh harus ia lalui tanpa sepeda, tak seperti
teman-temannya. Jalannya gesit, tujuannya cuma satu sekolah, pantang baginya
datang terlambat, sakit sekalipun ia tetap datang terkecuali tak mampu berjalan,
prinsipnya matang, tekatnya bulat, sebulat mimpi kecilnya, dan terkadang ia
lebih dulu sampai ketimbang temannya yang bersepeda.
Ia
seorang siswa di kelas 5 SDN 300 Bone
Pute yang berubah nama menjadi SDN 108 Bone Pute, otaknya tak pintar tak sepandai teman-teman
yang lain, namun ia tak dungu tapi lugu dengan semangat yang menggebu-gebu
memelihara impian-impian kecilnya yang ia sebut “mimpi si bocah gembala”. Di kelas sebelumnya, seorang Ibu Guru
yang kini menjadi wali kelasnya, bercerita tentang kisah masa kecilnya, saat ia
harus memelihara ayam untuk memenuhi keperluan-keperluan sekolah dan ia meminta
siswa turut mencontohi hal tersebut.
Sebut
saja namanya Deckroy, sebagai siswa yang
baik dan lugu ia menuruti wejangan dari cerita gurunya itu. Selepas dari
sekolah, ia tak langsung bergegas pulang, ia menyinggahi sang nenek yang
tinggal seorang diri, sebab sang kakek telah pulang setahun yang lalu saat ia
masih duduk di bangku kelas 4. Tak sekali ini ia menyinggahi neneknya, namun
berkali-kali ia selalu menyempatkan diri datang dan membantu beberapa hal yang
dapat ia kerjakan, bahkan tinggal menginap di rumah sang nenek, (air hangat
pada pagi yang dingin dan juga masakan sang nenek yang membuatnya rindu, bahkan
betah menginap).
“Deckroy, bo teko uling masuk ci?...”,
tanya sang nenek sudahkah ia lepas dari sekolah. “boo mbah”, sahutnya membalas tanya sang nenek jika ia sudah lepas
sekolah. “engken ci singgah deck?...” tanya sang nenek,
tujuan ia menyinggahinya. Bergegaslah ia bercerita tentang tujuan singgahnya,
bahwa ia ingin meminta sepasang anak ayam dari neneknya untuk ia pelihara di
rumah untuk dapat memenuhi keperluan sekolahnya sewaktu-waktu seperti yang
diceritakan Gurunya saat di Sekolah, kebetulan neneknya memiliki lumayan banyak
ayam dan alhasil ia diberi sepasang bibit ayam yang siap kawin oleh sang nenek.
Dari
sepasang bibit ayam pemberian sang nenek, menetaslah beberapa butir telur
menjadi anak ayam. Dengan hati gembira dan riang bagai bermain layang-layang,
ia merawat ayam-ayamnya dengan penuh kasih sayang, sayap-sayappun tumbuh di
sekujur lengan anak ayamnya penanda jika pertumbuhan telah terjadi, tapi
sayang, penyakit datang. Dengan penuh upaya ia obati dan suapi satu persatu
ayamnya yang sedang jatuh sakit dan tak lagi mau makan sendiri, nasib tak
kepalang, ketakberuntungan lagi-lagi menjadi miliknya, sepasang induk ayamnya
mati dan juga anakannya, yang tersisa cuman satu.
Dari
kecil seekor anak ayam yang tersisa itu ia rawat dengan kasih sayang dan
segenap perhatiannya. Tumbuh dan besar menjadi seekor ayam jago dengan bulu
merah mengkilap, pial ros merah merekah, berjambul dan berkaki biru, suaranya
nyaring geretek (ketawa), dengan ukuran yang tidak begitu besar menyerupai ayam
hutan. Ayam itu begitu jinak, ia sebut “Bieng Ketawa” namanya. Selepas ia
dari sekolah, sepulang bermain atau bekerja, Si Bieng Ketawa selalu menyambutnya dengan riang, dengan kokok
geretek ketawanya yang khas, dan juga tarian sayap yang menjuntai ketanah
bergegas menghampirinya.
Bagai
seekor anjing yang menanti majikannya pulang, demikian Si Bieng Ketawa menanti
Deckroy saat ia berada diluar rumah, ia sangat menyayangi ayamnya itu. Ayam
yang pandai dan menawan, hanya dengan petikan ibu jari berpadu jari tengah saja
Si Bieng Ketawa pasti menari bak penari yang diiringi tetabuh gamelan, dan juga
gretekan ketawa kokokan khasnya selalu mampu menghibur dan mengusir lelahnya
dari rutinitas seharian. Sebab itu ia sangat menyayangi Si Bieng Ketawa, ia tahu ayamnya itu juga sangat menyayanginya.
Waktu
berlalu, sapatu pengalas kakinya habis terkikis waktu, terkikis kerikil tajam
yang menghujam selama perjalanan lalu lalang menuju sekolah dan kembali pulang,
dan juga kubangan lumpur merobek, melusuhkan sepatu pengalas kaki yang cuma
satu-satunya ia punyai, ditambah lagi ukuran kakinya yang sudah membesar tak
lagi muat dengan ukuran ketika kelas 3 dan 4 menambah kesedihan di hati,
menahan perih kaki setiap harinya. Sempat di pintanya Si Ibu untuk menggantikan
sepatunya yang sudah jauh dari kata tak layak pakai, namun keadaannya sedang
tak memiliki sedikit uangpun. Jangankan untuk membelikan sepatu untuk makan
hari ini pun masih sedang dicarinya. “Mek,
belia nak sepatu po”, deckroy meminta si ibu membelikannya sepatu. “kangoa gen lu to, memek nu sing ngelah pis
Deck, anggon makan gen konde ado”, sahut ibunya agar ia tetap menggunakan
sepatunya yang sudah tak layak pakai itu sebab masih belum punya ongkos untuk
membelikannya sepatu yang baru, dan untuk makanpun masi sedang dicarinya.
Ia
pun terdiam, membisu, tak lagi melanjutkan percakapan tentang permintaannya
itu. Ia sangat mengetahui keadaan orang tuannya yang memang sedang lagi
kesulitan untuk makan, apalagi untuk membelikannya sepatu baru, sangatlah
mustahil. Ia membisu dan terpaku, dan juga menahan sedih di kalbu akan
kenyataan hidup yang begitu pahitnya, yang lebih pahit bila dibandingkan dengan
pil terpahit sekalipun, lebih pahit dari paria yang tidak disenanginya. Dalam
hatinya, dengan mata yang ia pejamkan dalam-dalam, ia lepaskan doa kepada sang
pencipta jagat raya “Oh Tuhanku Yang Maha
beri aku jalan” gumamnya dalam hati.
Mentari
kembali keperaduan, di senja itu sinarnya matang dengan cahaya jingga keemasan
merekah di upuk barat, Si Bieng Ketawa berkokok tak henti seolah memberi
petanda ada yang harus di korbankan untuk sebuah mimpi kecil deckroy. Si Bieng
Ketawa seakan ikut merasakan kesedihan, gelisah, dan juga gunda gulana dalam
kegalauan majikanya yang tak kunjung menemukan solusi. Senja itu pula, seorang
buruh pabrik padi yang berada tepat disebelah rumahnya datang menghampiri dan
mengatakan tentang keinginannya terhadap Si Bieng Ketawa, “deck, sing keadep siap to, bang blin mayahin ji seket mai, kebayah bo
jani”. Pinta si Kakak buruh pabrik
itu, dengan memberi pernyataan akan membeli Si Bieng Ketawa dengan harga lima
puluh ribu rupiah.
Deckroy
pun terperanjat, ia terkaget dengan permintaan Bli buruh pabrik itu, cukup
mahal juga tawarannya. Di satu sisi ia sangat senang mendengarnya, namun di
sisi yang lain ia merasa berat untuk melepaskan ayam kesayangannya itu,
terlebih saat Si Bieng Ketawa tiba-tiba saja menghampiri dengan tarian ditambah
kokokan geretek ketawanya yang khas itu, membuatnya semakin tak rela
kehilanagan. Selepas dari itu, Si Bieng Ketawa pun membisu di sebelahnya seolah
memberi tanda jika iapun telah merelakan diri untu berpisah dengan majikannnya.
Hatinya
sesak, sedih, tubuh bocah itu pun bergetar, ia menahan air agar tidak jatuh
dari ujung matanya, sebab ia tak ingin Bli buruh pabrik itu mengetahui masalah yang
sedang menimpanya itu. Selepas dari itu, tiba-tiba saja ia teringat oleh cerita
Ibu Guru yang menjadi wali kelasnya saat ini tentang ayam yang ia ceritakan
saat masih duduk di bangku kelas 4, ia juga teringat kata seorang guru yang ia
kagumi pernah berkata “rawe-rawe rantas,
malang-malang kuntur…sekali melangkah pantang mundur”, dari itu ia mulai
mendapat keyakinan bahwa dibutuhkan pengorbanan besar untuk sebuah mimpi kecil,
di relakannyalah Si Bieng Ketawa yang sangat disanayanginya dan yang
menyayanginya itu.
Di
rangkulnya Si Bieng Ketawa untuk kali terakhir, dengan perasaan hati yang
teramat berat, dengan gumamnya dalam hati, “maaf
ya…, maafkan saya Bieng Ketawaku, hari
ini saya harus merelakanmu, saya menyayangimu, semoga esok di hari-hari
berikutnya jika kau mendahului usiaku lahirlah kembali menjadi sahabatku, Bieng
Ketawaku. Saya tidak akan pernah melupa pengabdian dan pengorbananmu padaku,
terimaksih telah menjadi sahabat setiaku Bieng Ketawa”. Sembari dijulurkannya
Bieng Ketawa kepada Bli buruh pabrik itu, dan diterimanyalah sepatu baru
sebagai ganti Bieng Ketawa.
“Suksma Bli”,
ucap Deckroy terimaksih. “Mewali Dek,
siapne keabo Bli nah”, balas Bli buruh pabrik bergegas membawa bieng
ketawa. Tak begitu jauh, Si Bieng Ketawa berkokok tak senyaring biasanya,
terdengar sedikit serak seakan ada kesedihan di hatinya. Terngiang di telinga,
menyepi dan menghilang, tak adalagi bieng ketawa, sekolahpun berlanjut, mimpi
kecilpun terus dipeliharanya dan diwujudkan bersama kengangan dan juga sisa
tangis setelah kepergian Si Bieng ketawa.
Lambarese,
17 Mei 2017.
I Kadek Royatmika


0 Komentar:
Posting Komentar
Berlangganan Posting Komentar [Atom]
<< Beranda