Rabu, 17 Januari 2018

CERPEN : PENGIN KETAWA....

Bieng Ketawa

Jalan setapak itu berbatu tajam menghadang dan menghujam, becek berlumpur menggenangi kubangan di permuakaan jalan menuju sekolah di desa sebelah. Pagi masih muda, mentari masih malu menampakan rupanya, dingin masih menusuk ke sumsum tulang, dedaunpun masih basah diselimuti butir-butir embun yang menyegarkan, dan juga nyanyian kokok ayam ketawa menyambut hari dengan gembiranya. Di atas ranting-ranting pepohon bersuil riang burung kutilang, bersahut padu dengan burung gereja, pipit, bondol, dan juga lepecit memadu kidung-kidung alam.
Ia bergegas bangun dari lelap semalam, menunda mimpi di alam tidurnya, sebab ada mimpi nyata yang harus segera di lanjutkan, sejatipun rasa kantuk masih membungkam matanya. Tak lupa ia merapikan tempat tidur, seperti yang dipesankan oleh gurunya di sekolah, sejenak ia bersyukur akan pagi, akan karunia Tuhan yang tak bertara. Selepas semuanya beres di kerjakan termasuk kegiatan rutin paginya memberi makan sapi-sapi yang menunggunya di kandang, ia bergegas membersihkan diri dengan hati gembira dan riang bagai bermain layang-layang lantunan lagu kesukaannya. Tanpa air hangat, dia basuh tubuh kecil dan kurus itu, menggigil cadik kedinginan, menusuk ke sumsum tulang, air di desanya cukup dingin untuk ukuran seorang bocah sekurus dia.
Dengan setelan celana merah, kemeja putih, topi merah, tak lupa dasinya juga merah, ia nampak sedikit gagah dengan seragam SD-nya, meskipun seragam yang sudah nampak sangat lusuh sebab lama tak pernah diganti. Namun kelusuhan itu semua tertutupi oleh semangatnya sebagai seorang bocah yang memiliki impian-impian tentang masa di depan sana. Impian-impian kecil yang selalu ia pelihara dengan semangat bermain layang-layang, yang di sebutnya sebagai mimpi kecil, “Mimpi Si Bocah Gembala”, gumamnya selalu kepada teman gembalanya dengan bangga.
Julukan bocah gembala ia terima dari seorang teman wanita sekelasnya, juga sekaligus teman bermain, mencari reruput makanan ternak, dan juga kayu bakar selepas pulang sekolah saat ketika ia menemani sang nenek di bukit gunung dekat kampung, “Aku adalah bocah gembala, selalu senang riang gembira, blab bla bla bla…, dan seterusnya dan seterusnya…” kurang lebih demikian nyanyian ejekan yang ia terima setiap mereka berjumpa dan itu membekas di ingatannya.
“Dek makan lu, maro berangkat masuk”, panggil si ibu dengan nada lembut dan penuh kasih sayang, memanggil dan memintanya untuk sarapan terlebih dahulu sebelum bergegas berangkat ke sekolah. “Nah mek”, sahutnya mengiyakan panggilan si ibu. Dengan sarapan seadanya ia isi perut mungilnya sebelum ke Sekolah hanya dengan sebilah mie instan dan sedikit nasi tanpa telur, terkadang hanya nasi berisikan uyah lengis (garam bercampur banwang merah juga minyak kelapa), terkadang juga nasi berlauk uyah tabyo (cebe berbalut garam), dan kadang juga hanya uyah embo (bawang goreng bercampu garam) menjadi lauk nasinya, sangat sederhana, namun dengan lahap ia menghabiskan makan setiap paginya, “nikmati saja yang penting makan” gumamnya dalam hati.
Nasib tak seberuntung kebanyakan anak seumurannya, yang memiliki kehidupan lebih dari cukup. Ia terlahir di keluarga yang pra sejahtra atau dapat dikatakan miskin. Beruntungnya si ibu dan ayahnya memiliki semangat yang luar biasa, mereka gigih bekerja untuk sekedar meyambung hidup dan menyekolahkan anak-anaknya. Terkadang selepas sekolah ia juga harus membantu orang tuanya dengan berkeliling kampung menjajakan hasil tani berupa kacang panjang dari rumah kerumah, untuk bekal sekolahnya esok hari.
Tak banyak yang ia dapat dari menjajakan kacang panjang, hanya Rp. 300,- sebagai bekal sekolah, dimana teman sekolahnya sudah berbekal Rp. 1000,-, namun itu tidak mematahkan semangatnya untuk menuntut ilmu pengetahuan setiap hari sepanjang minggu. Tiga ratus rupiah, terkadang ia harus melalui dua hari untuk tidak jajan agar dapat menikmati sepiring nasi kuning dan sebuah es kue yang menggiurkan lidahnya. Tiga ratus rupiah, pada hari ketiga terkumpul sembilan ratus rupiah, nasi kuning harganya seribu, es kue seratus rupiah, kurang dua ratus rupiah, dan untuk menggenapkannya ia harus meminjam dari teman terdekatnya yang memiliki uang jajan lebih, hitung-hitungannya demikian, cukup indah angka-angka yang ia rangkai sebagai seorang bocah yang dungu matematika. Dengan demikian, di hari berikut ia harus puasa jajan untuk melunasi hutang yang ia miliki dan menunggu beberapa hari agar uangnya terkumpul untuk sekedar menikmati nasi kuning dan es kue, miris dan menyedihkan, tetapi ia tetap bersyukur, tetap semangat gembira dan riang menjalani dan memelihara mimpi kecilnya.
Mek, nak berangkat”, tak lupa berpamit selepas sarapan ia bergegas menuju sekolah. “Nah, hati-hati nyen”, balas si ibu menyilahkan dan tak lupa berpesan untuk selalu berhati-hati. Jalan setapak berbatu tajam menghadang dan menghujam, becek berlumpur menggenangi kubangan di permuakaan jalan menuju sekolah di desa sebelah yang lumayan jauh harus ia lalui tanpa sepeda, tak seperti teman-temannya. Jalannya gesit, tujuannya cuma satu sekolah, pantang baginya datang terlambat, sakit sekalipun ia tetap datang terkecuali tak mampu berjalan, prinsipnya matang, tekatnya bulat, sebulat mimpi kecilnya, dan terkadang ia lebih dulu sampai ketimbang temannya yang bersepeda.
Ia seorang siswa di kelas 5 SDN 300  Bone Pute yang berubah nama menjadi SDN 108 Bone Pute,  otaknya tak pintar tak sepandai teman-teman yang lain, namun ia tak dungu tapi lugu dengan semangat yang menggebu-gebu memelihara impian-impian kecilnya yang ia sebut “mimpi si bocah gembala”. Di kelas sebelumnya, seorang Ibu Guru yang kini menjadi wali kelasnya, bercerita tentang kisah masa kecilnya, saat ia harus memelihara ayam untuk memenuhi keperluan-keperluan sekolah dan ia meminta siswa turut mencontohi hal tersebut.
Sebut saja namanya  Deckroy, sebagai siswa yang baik dan lugu ia menuruti wejangan dari cerita gurunya itu. Selepas dari sekolah, ia tak langsung bergegas pulang, ia menyinggahi sang nenek yang tinggal seorang diri, sebab sang kakek telah pulang setahun yang lalu saat ia masih duduk di bangku kelas 4. Tak sekali ini ia menyinggahi neneknya, namun berkali-kali ia selalu menyempatkan diri datang dan membantu beberapa hal yang dapat ia kerjakan, bahkan tinggal menginap di rumah sang nenek, (air hangat pada pagi yang dingin dan juga masakan sang nenek yang membuatnya rindu, bahkan betah menginap).
“Deckroy, bo teko uling masuk ci?...”, tanya sang nenek sudahkah ia lepas dari sekolah. “boo mbah”, sahutnya membalas tanya sang nenek jika ia sudah lepas sekolah. “engken ci singgah deck?...” tanya sang nenek, tujuan ia menyinggahinya. Bergegaslah ia bercerita tentang tujuan singgahnya, bahwa ia ingin meminta sepasang anak ayam dari neneknya untuk ia pelihara di rumah untuk dapat memenuhi keperluan sekolahnya sewaktu-waktu seperti yang diceritakan Gurunya saat di Sekolah, kebetulan neneknya memiliki lumayan banyak ayam dan alhasil ia diberi sepasang bibit ayam yang siap kawin oleh sang nenek.
Dari sepasang bibit ayam pemberian sang nenek, menetaslah beberapa butir telur menjadi anak ayam. Dengan hati gembira dan riang bagai bermain layang-layang, ia merawat ayam-ayamnya dengan penuh kasih sayang, sayap-sayappun tumbuh di sekujur lengan anak ayamnya penanda jika pertumbuhan telah terjadi, tapi sayang, penyakit datang. Dengan penuh upaya ia obati dan suapi satu persatu ayamnya yang sedang jatuh sakit dan tak lagi mau makan sendiri, nasib tak kepalang, ketakberuntungan lagi-lagi menjadi miliknya, sepasang induk ayamnya mati dan juga anakannya, yang tersisa cuman satu.
Dari kecil seekor anak ayam yang tersisa itu ia rawat dengan kasih sayang dan segenap perhatiannya. Tumbuh dan besar menjadi seekor ayam jago dengan bulu merah mengkilap, pial ros merah merekah, berjambul dan berkaki biru, suaranya nyaring geretek (ketawa), dengan ukuran yang tidak begitu besar menyerupai ayam hutan. Ayam itu begitu jinak, ia sebut “Bieng Ketawa” namanya. Selepas ia dari sekolah, sepulang bermain atau bekerja, Si Bieng Ketawa selalu menyambutnya dengan riang, dengan kokok geretek ketawanya yang khas, dan juga tarian sayap yang menjuntai ketanah bergegas menghampirinya.
Bagai seekor anjing yang menanti majikannya pulang, demikian Si Bieng Ketawa menanti Deckroy saat ia berada diluar rumah, ia sangat menyayangi ayamnya itu. Ayam yang pandai dan menawan, hanya dengan petikan ibu jari berpadu jari tengah saja Si Bieng Ketawa pasti menari bak penari yang diiringi tetabuh gamelan, dan juga gretekan ketawa kokokan khasnya selalu mampu menghibur dan mengusir lelahnya dari rutinitas seharian. Sebab itu ia sangat menyayangi Si Bieng Ketawa,  ia tahu ayamnya itu juga sangat menyayanginya.
Waktu berlalu, sapatu pengalas kakinya habis terkikis waktu, terkikis kerikil tajam yang menghujam selama perjalanan lalu lalang menuju sekolah dan kembali pulang, dan juga kubangan lumpur merobek, melusuhkan sepatu pengalas kaki yang cuma satu-satunya ia punyai, ditambah lagi ukuran kakinya yang sudah membesar tak lagi muat dengan ukuran ketika kelas 3 dan 4 menambah kesedihan di hati, menahan perih kaki setiap harinya. Sempat di pintanya Si Ibu untuk menggantikan sepatunya yang sudah jauh dari kata tak layak pakai, namun keadaannya sedang tak memiliki sedikit uangpun. Jangankan untuk membelikan sepatu untuk makan hari ini pun masih sedang dicarinya. “Mek, belia nak sepatu po”, deckroy meminta si ibu membelikannya sepatu. “kangoa gen lu to, memek nu sing ngelah pis Deck, anggon makan gen konde ado”, sahut ibunya agar ia tetap menggunakan sepatunya yang sudah tak layak pakai itu sebab masih belum punya ongkos untuk membelikannya sepatu yang baru, dan untuk makanpun masi sedang dicarinya.
Ia pun terdiam, membisu, tak lagi melanjutkan percakapan tentang permintaannya itu. Ia sangat mengetahui keadaan orang tuannya yang memang sedang lagi kesulitan untuk makan, apalagi untuk membelikannya sepatu baru, sangatlah mustahil. Ia membisu dan terpaku, dan juga menahan sedih di kalbu akan kenyataan hidup yang begitu pahitnya, yang lebih pahit bila dibandingkan dengan pil terpahit sekalipun, lebih pahit dari paria yang tidak disenanginya. Dalam hatinya, dengan mata yang ia pejamkan dalam-dalam, ia lepaskan doa kepada sang pencipta jagat raya “Oh Tuhanku Yang Maha beri aku jalan” gumamnya dalam hati.
Mentari kembali keperaduan, di senja itu sinarnya matang dengan cahaya jingga keemasan merekah di upuk barat, Si Bieng Ketawa berkokok tak henti seolah memberi petanda ada yang harus di korbankan untuk sebuah mimpi kecil deckroy. Si Bieng Ketawa seakan ikut merasakan kesedihan, gelisah, dan juga gunda gulana dalam kegalauan majikanya yang tak kunjung menemukan solusi. Senja itu pula, seorang buruh pabrik padi yang berada tepat disebelah rumahnya datang menghampiri dan mengatakan tentang keinginannya terhadap Si Bieng Ketawa, “deck, sing keadep siap to, bang blin mayahin ji seket mai, kebayah bo jani”. Pinta si  Kakak buruh pabrik itu, dengan memberi pernyataan akan membeli Si Bieng Ketawa dengan harga lima puluh ribu rupiah.
Deckroy pun terperanjat, ia terkaget dengan permintaan Bli buruh pabrik itu, cukup mahal juga tawarannya. Di satu sisi ia sangat senang mendengarnya, namun di sisi yang lain ia merasa berat untuk melepaskan ayam kesayangannya itu, terlebih saat Si Bieng Ketawa tiba-tiba saja menghampiri dengan tarian ditambah kokokan geretek ketawanya yang khas itu, membuatnya semakin tak rela kehilanagan. Selepas dari itu, Si Bieng Ketawa pun membisu di sebelahnya seolah memberi tanda jika iapun telah merelakan diri untu berpisah dengan majikannnya.
Hatinya sesak, sedih, tubuh bocah itu pun bergetar, ia menahan air agar tidak jatuh dari ujung matanya, sebab ia tak ingin Bli buruh pabrik itu mengetahui masalah yang sedang menimpanya itu. Selepas dari itu, tiba-tiba saja ia teringat oleh cerita Ibu Guru yang menjadi wali kelasnya saat ini tentang ayam yang ia ceritakan saat masih duduk di bangku kelas 4, ia juga teringat kata seorang guru yang ia kagumi pernah berkata “rawe-rawe rantas, malang-malang kuntur…sekali melangkah pantang mundur”, dari itu ia mulai mendapat keyakinan bahwa dibutuhkan pengorbanan besar untuk sebuah mimpi kecil, di relakannyalah Si Bieng Ketawa yang sangat disanayanginya dan yang menyayanginya itu.
Di rangkulnya Si Bieng Ketawa untuk kali terakhir, dengan perasaan hati yang teramat berat, dengan gumamnya dalam hati, “maaf  ya…, maafkan saya Bieng Ketawaku, hari ini saya harus merelakanmu, saya menyayangimu, semoga esok di hari-hari berikutnya jika kau mendahului usiaku lahirlah kembali menjadi sahabatku, Bieng Ketawaku. Saya tidak akan pernah melupa pengabdian dan pengorbananmu padaku, terimaksih telah menjadi sahabat setiaku Bieng Ketawa”. Sembari dijulurkannya Bieng Ketawa kepada Bli buruh pabrik itu, dan diterimanyalah sepatu baru sebagai ganti Bieng Ketawa.
“Suksma Bli”, ucap Deckroy terimaksih. “Mewali Dek, siapne keabo Bli nah”, balas Bli buruh pabrik bergegas membawa bieng ketawa. Tak begitu jauh, Si Bieng Ketawa berkokok tak senyaring biasanya, terdengar sedikit serak seakan ada kesedihan di hatinya. Terngiang di telinga, menyepi dan menghilang, tak adalagi bieng ketawa, sekolahpun berlanjut, mimpi kecilpun terus dipeliharanya dan diwujudkan bersama kengangan dan juga sisa tangis setelah kepergian Si Bieng ketawa.

Lambarese, 17 Mei 2017.
I Kadek Royatmika

0 Komentar:

Posting Komentar

Berlangganan Posting Komentar [Atom]

<< Beranda

letakkan teks / gambr / video disini - See more at: http://www.seoterpadu.com/2015/01/7-cara-mempercantik-tampilan-blog.html#sthash.PxWhWLcB.dpuf tombol { -webkit-transition-duration: 0.8s; -moz-transition-duration: 0.8s; -o-transition-duration: 0.8s; transition-duration: 0.8s; -webkit-transition-property: -webkit-transform; -moz-transition-property: -moz-transform; -o-transition-property: -o-transform; transition-property: transform; overflow: hidden; } .tombol:hover { -moz-transform: rotate(360deg); -webkit-transform: rotate(360deg); -moz-transform: rotate(360deg); -ms-transform: rotate(360deg); -o-transform: rotate(360deg); transform: rotate(360deg); } - See more at: http://www.seoterpadu.com/2015/01/7-cara-mempercantik-tampilan-blog.html#sthash.PxWhWLcB.dpuf